Selamat Datang Di Website Pariwisata Rejang lebong dan Adat istiadat,Bahasa,dan RejangLebong tempo dulu

Kamis, 19 Desember 2013

Fhoto Kejayaan Lebong Tempo dulu

Kejayaan Lebong
Pada zaman kolonial,lebong merupakan daerah kaya.yang sering disebut ketika itu :batavia II"dengan punya sumber daya alam emas,hingar bingarnya hingga ke eropa,luar biasa,,, ketika itu yang pemimpin pertambangan tersebut adalah sanders warga belanda,,,,dan banyak lagi,warga belanda,yang mendiami lebong,,,,dahaulu lebong sangat maju,,bebrapa buku karangan,peneliti,dari luar negeri,mengatakan lebong daerah yang punya emas sangat banyak,,,,tapi itulah penjajah tetap penjajah,mereka menguras untuk kepentingan mereka,,,saat ini masih banyak sisa-sisa bangunan peninggalan kolonial yang masih kita jumpai disana,,,daerah lebong saat ini adalah daerah kabupaten,yang terus membangun,daerahnya,mereka merupakan penghasil beras ,ikan,dan nilam...dan juga pariwisatanya sungguh nna elok,seperti danau tes,pemandian air putih,dan dananu picung dan banyak lagi,,,ditambah lagi penduduknya yang ramah,dan religius..saya sebagai penulis,merasakan sendiri dilebong,,,dan juga gadis-gadisnya terkenal dengan kecantikannya,,dan juga kalau ada acara pesta rakyat,penduduknya sangat menantikan hiburan rakyat,,,dan juga gulai ikannya enak disantap(hf)

















TENTANG MAKANAN LEMA

  TENTANG MAKANAN LEMA

Kalau membaca judulnya mungkin rada bingung apa Lema itu??
Nah disini saya akan sedikit menjelaskan mengenai lema itu dan berbagi informasi.

Lema adalah makanan khas dari suku Rejang ( Provinsi Bengkulu ). Lema bisa dikatakan makanan wajib untuk suku Rejang. Rasanya yang asam pedas setelah dijadikan lauk mempunyai sensasi tersendiri bagi yang mengkonsumsi, serta aromanya yang khas, emmm membuat yang sangat menyukai makanan ini (termasuk saya sendiri, sebagai Anak asli Rejang)tidak akan tahan lama-lama hanya mencium aroma lema yang sedang dimasak, untuk segera menyantapnya, yummy.

Lema ini terbuat dari bahan-bahan makanan yang sederhana. Lema merupakan makanan hasil fermentasi(pengasaman) bener gak yaa istilahnya,heee. Bahan-bahan membuat lema adalah:
rebung
1. Rebung (anak bambu)
2. Ikan ( biasanya ikan mujair yang kecil, ikan laut jg bisa, tergantung      selera).
3. Sedikit nasi (dengan diberi sedikit nasi, diyakini bisa membuat lemanya lebih kental)

Cara membuat Lema pun sangatlah mudah. Rebung dicincang hingga bentuknya kecil2, tetapi jangan sampai hancur seperti bubur karena tekstur yang dibutuhkan adalah cincang kasar. Setelah Rebung tersebut dicincang tinggal dicampuri dengan ikan (ikan yang masih segar alias mentah) oleh karena itu ikan yang dibutuhkan berbentuk kecil supaya hancurnya tidak lama, dan jua dicampuri dengan nasi. Jika bahan-bahan tersebut telah tercampur semua, Didiamkan hingga kurang lebih 1minggu. Agar menjadi asam dan ikannya hancur(busuk), bentuknya seperti gambar dibawah:
lema

Ya bagi yang tidak mengenal makanan ini khususnya orang bukan Rejang,  pasti akan sedikit merasa jijik karena yang dipakai adalah ikan mentah(ikan yang sudah busuk). Serta aromanya yang kurang sedap Tapi setelah dimasak emmm, rasanya sangat khas apalagi jika ditambah dengan cabai yang banyak, emm asem pedas yang yummy. Makanan yang sangat layak untuk dicoba. Ohya Lema ini tidak dimakan seperti gambar diatas tetapi diolah kembali(dimasak) jadi meskipun pembuatannya yang sedikit ekstrem dengan ikan mentah setelah diolah akan menjadi makanan yang enyak enyak enyak. Cara memasaknya pun gampang, bisa hanya dengan menggiling cabe. Lalu cabe yang sudah digiling itu ditumis, setelah harum dimasukkan lema dan air(agar lemanya matang) ditunggu sampai airnya kering(lemanya matang), lema enak hanya dengan ditumis begitu. Bisa juga ditambah pelengkap dengan dicampuri dengan Ikan atau keladi. Selain ditumis juga bisa dimasak dengan santan.  Nie salah satu contoh lema yang dimasak dengan sambal+ikan
bagaiman lumayan mengunggah selera kan. Makanan yang akan memberikan sensani rasa makanan yang unik, karena kalau pendapat saya pribadi rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata(lebay dikit), karena rasanya memang unik, asem, pedas, gurih, nano-nano dech.

Pada waktu lagi nyari2 foto lema, eh nemu di http://id.wikipedia.org/wiki/Lema_(makanan) kalau ternyata Lema ini telah melalang buana ke luar negeri lo yaitu ke Jepang, hohoho tidak menyangka saya, sebagai anak asli rejang saya bangga ternyata makanan khas ini sikenal juga ampe luar. Kalau lema asli Rejang disimpannya biasa dibaskom aja, kalau mau dijual and menambah cita rasa biasanya disimpan dan dibungkus didaun pisang, naahh kalau di Jepang kayak kornet, dikalengkan,oooo ternyata lema bisa dikalengkan juga toch.Lema ini ternyata dijadikan makanan pengganti untuk kebiasaan orang Jepang yang suka mengkonsumsi ikan mentah yang ternyata merupakan kebiasaan yang buruk karena berefek kepada menyebabkan penyakit Minamata. Nah hayo saudara-saudara, Ibu Bapak, Adek Kakak dan handi toyan masa kalah sama Jepang, Jepang aja udah icip-icip makanan ini masa sebagai bangsa Indonesia belum,hehehe. Lema itu enaaaaakk loo,heee.

Nah itulah sedikit mengenai lema yang saya ketahui, semoga dapat menambah pengetahuan khususnya tentang makanan khas yang ad di Negara yang kita cintai ini Indonesia. Kalau bukan kita yang saling berbagi informasi ini sapa lagi, betul betul betul.....
Selamat mencoba Lema yaaa.................@_@.............................

Rabu, 18 Desember 2013

PROFILE,,,Richard McGinn GURU BESAR UNIVERSIATS OHIO ,PENELITI BAHASA REJANG ,DI PROPINSI BENGKULU



PROFILE,,,Richard McGinn
GURU BESAR UNIVERSIATS OHIO ,PENELITI BAHASA REJANG ,DI PROPINSI BENGKULU
Date of Birth: December 23, 1939
E-Mail: mcginn@ohio.edu                                                                       
Phone: 740-593-4566
Department: 740-593-4564
Fax: 740-593-2967
Office: Room 377 Gordy Hall
Mailing Address:
Department of Linguistics
383 Gordy Hall
Ohio University
Athens, OH 45701 USA
Academic Degrees:
Ph.D. 1979 (Linguistics) University of Hawaii
M.A. 1966 (English) Gonzaga University
B.A. 1961 (Psychology, English) Gonzaga University
Current Position:
Associate Professor Emeritus of Linguistics and Southeast Asian Studies
Language Background:
Indonesian / Malay
Rejang (Sumatra)
Tagalog
German
Bidayuh (Sarawak, Malaysian Borneo)
Experience Abroad:
Indonesia:
2007 One month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu
2006-07 Six month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu (Fulbright Grant)
2004 Three month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, and Ulu Rawas, Sumatra Selatan.
2001 three-week field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra
1999 one-week field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra
1994 two-month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra
1989 two-month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra
1988 two month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra
1987 three months, coordinator of the COTI Advanced Indonesian Abroad Program
1974-76, Director, Pertamina English Language Institute, Jakarta
1972-1974 Instructor, University of Sriwijaya, Palembang, South Sumatra (Fulbright grant)
Malaysia:
2001 three-week field trip to Sarawak, Borneo
2000 four-week field trip to Sarawak, Borneo
1999 one week in Penang
1974 two week tour of Kuala Lumpur and Malacca
Italy, England, Ireland: 1967 (12-week tour)
France: 1967 (12 weeks language study);
Germany: 1966-67 (6 months language study)
Philippines: 1963-1966 (Peace Corps volunteer, Los Banos, Laguna)
Administration:
Chair, Linguistics Department, July 1994-June 2004
Acting Chair, Linguistics Department, Winter quarter 1993.
Director, Southeast Asia Studies Program, Ohio University, 1984-1988
Associate Director, Southeast Asia Studies Program, Ohio Universty, 1979-80 and 1983-84.
Language Coordinator, Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI), Ohio University, summer 1982 and summer 1983.
Language Coordinator, Indonesian Studies Summer Institute (ISSI), Ohio University, summer 1981
Director, Pertamina English Language Institute, National Oil Company of Indonesia, 1973-1975.
Training Director, Peace Corps/Philippines, Hilo, Hawaii 1967-68
Language Coordinator, Peace Corps/Philippines Training Program, Stanford University, Summer 1967
Professional Service:
Executive Committee, Southeast Asian Studies Summer Institute, (1997- )
Editorial Board, CROSSROADS, AN INTERDISCIPLINARY JOURNAL OF SOUTHEAST ASIAN STUDIES (1986-1995)
First President, Consortium of Teachers of Southeast Asian Languages (1984-87)
Board of directors, Southeast Asian Studies Summer Institute, 1982-1987
Language director, Southeast Asian Studies Summer Institute, Ohio University (1983)
Organized the Third Eastern Conference on Austronesian Linguistics, Athens (1983)
Editor, Antara Kita: the newsletter of the Indonesian Studies Committee of the Association for Asian Studies (1979-81)
Indonesian Studies Summer Institute (1981-82)
Past editor of Antara Kita the newsletter of the Indonesian Studies Committee of the Association for Asian Studies (1979-81)
Since 1979 organized panels for the Association for Asian Studies, the Conference on Indonesian Studies and the Malay World Symposium



Department of Linguistics
Gordy 383 - Athens, Ohio 45701
Tel: 740-593-4564
Fax: 740-593-2967
Email:
linguisticsWeb@ohio.edu
College of Arts and Sciences
Tel: 740.593.2845
Fax: 740.597.1386

© Copyright 2008
OHIO University

KOTA CURUP.....dIMATAKU...






kota curup ...adalah kota kabupaten rejang lebong,dahulunya kabupaten rejang lebong merupakan kabupaten induk,salahsatunya kepahyang,lebong adalah wilayah kecamatan dibawah pemerintah kabupaten rejang lebong,berdasarkan perkembangan otonomi kepahyang dan lebong menjadi kabupaten tersendiri dan mempunyai ibukota sendiri,,,,,,,,kabupaten kepahyang,ibukotanya kepahyang dan kabupaten lebong beribukota muara aman......
kota curup terkenal dengan sejuknya dan perkebunan,,,dan hasil sayur-sayuran,yang "diekspor"ke kabupaten tetangga sumatera selatan,lampung,jambi hingga ke jakarta.....dicurup mempunyai perguruan tinggi,diantaranya STAIN CURUP.Akper/poltekkes Curup.Poltek RAFFLESIA,DAN Stipper curup,,,
AMIK CIKO......dan juga kota curup banyak punya tempat wisata,dianataranya suban air panas dan danau mas bastari (hf)

Senin, 10 Desember 2012

Rejang Selayang Pandang (Asal Mula Suku Rejang di Bengkulu)

curup 09061937 perpisahan sanders lokasi Gedung GOR sekarang



Rejang Selayang Pandang (Asal Mula Suku Rejang di Bengkulu)
Sahdan pada zaman kerajaan raja-raja dari daerah pulau Jawa masih dalam masa kajayaannya. Semasa Palembang masih bernama Selebar Daun, Bengkulu masih bernama Sungai Serut, Rejang masih bernama Renah Sekelawi (sebelumnya bernama Pinang Belapis). Pada zaman itu raja adalah orang yang mempunyai turunan raja pula. Raja bukan sembarang raja, raja sakti, arif lagi bijaksana.
Karena di Pulau Jawa telah banyak kerajaan yang rajanya telah ada, maka sebagian turunan raja-raja itu merasa dirinya terhina bila tidak dapat jadi raja. Beberapa orang turunan raja itupun mencoba keluar dari pulau Jawa, dengan maksud mencari daerah yang akan diperintahnya. Mereka merejang kepulau Perca (Pulau Sumatra) untuk mencari daerah baru.
Bertahun tahun meraka merejang di daerah Pulau Perca, dan mereka telah tiba di daerah Tapus sekarang. Di sana Bitsu Bembo sebagai pelacak pertama menyatakan bahwa di sini suko dijadikan negerai (suka negeri ). Untuk menetapkan atau memberi apa nama negeri tersebut, maka dibuatlah satu pertapaan yang diberi kelambu. Setelah beberapa hari, kelambu itu dibuka, ternyata didalamnya tumbuh sebatang kayu yang namanya kayu Tapus, nah karena itu negeri atau tempat itu dinamakan TAPUS.
Bitsu Bembo berpesan pada saudara-saudaranya apabila ingin menyusulnya, telusurilah muara sungai yang paling deras muaranya. Bertahun lamanya mereka menyusuri sebuah sungai, barulah mereka bertemu dengan bitsu Bembo. Justru karena itu, maka sungai yang mereka susuri itu dinamakan sungai Ketahun (asal kata menaun).
Adalah mereka yang menyusul itu adalah Bitsu Bermano, bitsu Bejenggo, dan bitsu Sepanjang Jiwo. Bitsu-bitsu itu terpencar kebeberapa daerah, seperti bitsu Bermano di daerah Kutai Ukem (Kota Rukam) yang terletak di daerah Darmaga Tauris Danau Tes sekarang. Perlu kami nyatakan bahwa Danau Tes itu nama sebenarnya adalah BIYOA KETEBET (air ketebat). Tebat adalah kolam kata kita sekarang. karena air itu adalah kolam Si PAHIT LIDAH (MANTAKUN), dan temannya Si MATO EMPAT (ALI JENANG TIGAS).
Adapun tiga orang bitsu yang menyusul itu telah mempunyai daerah masing-masing, seperti bitsu Bermano mempunyai daerah Kutai Ukem. Bitsu Bejenggo mempunyai daerah Tubei atas tebing. Di daerah sebelah atas dari (pasar Muara Aman sekarang). Sedangkan bitsu Sepanjang Jiwo mempunyai daerah Batu Lebar Seguring, daerah Curup sekarang. peduduk pada masa itu belum Lancar berbahasa, dan lidahnya agak kaku, bitsu itu disebutnya BIKAU. Bukan bikoa, ada pula yang menyebutnya Rejang Bikoa, itu salah yang betulnya adalah Rejang turunan Bikau. Bikau adalah asal katanya dari bitsu. Bitsu adalah kiyai agama budha.
Pada waktu itu mereka sibuk mengurus daerah mereka masing-masaing, sehingga saling terpecahlah kesatuan mereka. Pada waktu itulah pada sebatang Benuang Sakti ditunggui oleh SIAMANG PUTIH. Anehnya Siamang Putih ini kemana ia menghadap di sana ditimpa bencana. Baik itu bencana penyakit, kebakaran dan sebagainya.
Mereka berusaha untuk mencegah hal ini, mereka mengadakan sidang musyawarah di tempat balik hati (baik atei) di daerah Lebong Simpang sekarang. tempat ini ditunggu oleh : 5 orang malim : 1. malim serubuk, 2. Malim Sedina, 3. Malim Sedu Royeak, 4. Malim Sumar Galung dan 5. Malim Lemo. Dan juga di sana ada pula 4 orang dayang, yaitu: 1. Dayang Tarok, 2. Dayang Turing, 3. Dayang Kecitang Tanuk Karo dan 4. Dayang Itam. Di samping dayang-dayang ada pula Rebiak 3 orang, yaitu : 1. Rebiak Mabuk, 2. Rebiak Merem, dan 3. Rebiak Guting Paras.
Hasil musyawarah mereka di sana ialah batang Benuang Sakti itu harus ditebang, Supaya Siamang Putih itu dapat dimusnahkan. Bikau Bembo selaku ketua mengurus penebangan itu, Dan penebangan pertama jatuh ke tangan bikau Bermano.
1.    Bikau Bermano mengarahkan anak buahnya megapak kayu benuang itu. Seluruh anak buahnya turun tangan turut menebang kayu itu. Sehingga CIGAI MANAI (dalam arti telah penuh dengan kapaan) namun kesaktiannya kayu Benuang itu jangankan roboh, malah bertambah kokoh tegaknya. Bikau Bermano dan anak buahnya menyerah/ mengaku tidak dapat menebang kayu Benuang itu. Dengan kata-kata cigai manai daerahnya dinamakan Margo Manai (bermani). Yang berkedudukan di Kutai Ukem (Kota Rukam). Penduduknya berciri khas Sekoa Rucing.
2.  Giliran kedua jatuh pula ke tangan bikau Bejenggo. Bikau Bejenggo berduyun-duyun mengajak anak buahnya untuk menebangnya. istilah berUBEI-UBEI (bergotong royong), namun hasilnya masih sama  dengan hasil bikau Bermano tadi. Dari kata ubei maka marganya dikataksn Margo Tubei. Penduduknya berciri khas KOOT ULAU KETOT.
3.  Tiba pula giliran yang ketiga yaitu bikau Sepanjang Jiwo. Namun mereka ini secara UPUAK-UPUAK artinya berpayah payah mengerahkan segala tenaga yang ada untuk menebang Benuang itu. Namun hasilnya sama pula dengan hasil dua bikau sebelumnya.dengan istilah upuak upuak marganya dinamakan Margo Seluak (MARGA SELUPUH) sekarang yang berkedudukan di Batu Lebar Seguring di daerah Curup. Ciri khas penduduknya bermaneu ubep ubep (seolah olah ada yang akan di terkam). Ketiga bikau yang terdahulu semuanya mengaku tidak tertebang Benuang Sakti itu. Kini tiba gilirannya pada orang yang mengatur, harus pandai berbuat apa yang ia aturi. Jangan bisa mengatur saja. Ia harus bisa melaksanakan apa yang ia aturkan itu.
Bikau bembo kebingungan dibuatnya. bagaimana akan menumbangkan pohon Benuang Sakti yang selalu mendatangkan malapetaka itu. Andai hal ini tidak teratasi, kemungkinan seluruh wilayah akan menerima giliran musibah. Dalam keadaan termenung bikau Bembo seolah olah ada orang yang berbisik, semoga bikau Bembo membakar kemenyan, dan bersemendi (bertapa). Beliau melaksanakan pertapaan, memohon pada yang maha sakti dan pada yang maha agung, yang menguasai seluru alam jagat ini.
Dalam PERTAPAAN beliau  mendapat bisikan, bahwa pohon benuang ini mau roboh, bila digalang oleh PUTRI SEDARAH PUTIH adalah Putri Raja Perambanan. Perambanan adalah suatu kerajaan yang terletak di daerah Jawa Tengah.
Dengan harapan yang sedikit sekali akan berhasil, maka bikau Bembo berangkat ke Jawa Tengah menuju kerajaan Prambanan. Bermohon agar Raja Prambanan mengizinkan putrinya jadi penggalang.
Raja kerajaan Prambanan adalah raja yang arip lagi bijaksana, memperkenakan putrinya menjadi penggalang, Tetapi harus memenuhi beberapa syarat persyaratan itu antara lain :
1.      Putri Sedarah Putih tidak boleh cacat, misalnya jasmani ataupun rohaninya.
2.      Setelah menjadi penggalang harus dikembalikan kepangkuan ayahnya di kerajaan Prambanan.
3.      Andai kata Putri Sedarah Putih cacat bikau Bembo harus menanggung resikonya.
Putri Sedarah Putih dibondong ke pulau Sumatera, ke daerah mereka. Setelah di daerah itu, mereka menggali lubang di sekitar pohon Benuang Sakti itu, tempat putri Sedarah Putih digulingkan. adapun lubang itu, dalamnya 7 hasta, lebarnyapun 7 hasta.
Setelah sesuatu yang harus dikerjakan telah beres atau selesai, maka bikau Bembo memulai menebang. Pohon Benuang Sakti itu memang betul roboh, tapi Siamang Putih itu raib entah kemana perginya. Putri Sedarah Putih segera dikeluarkan dari lubang itu. Mereka semua merasa gembira karena pohon benuang yang bermala petaka itu telah tiada. Telah musnah dan roboh. yang bisa dijadikan kayu yang berkeping.
Tapi anehnya putri Sedarah Putih itu hamil. Dengan rasa lesu bikau Bembo berangkat ke Prambanan mengembalikan putri Sedarah Putih. Di sana beliau mendapat caci maki yang bertubi-tubi. dan harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Maka bikau bembo harus kawin dengan putri Sedarah Putih.
Bikau Bembo adalah orang mencari penggalangan Benuang Sakti, dengan asal kata tukang galang maka daerahnya dinamakan Juru Kalang. Penduduknya berciri khas telunjuk miring. Banyak orang berpendapat bahwa turunan orang Juru Kalang tidak dimakan buaya. Sekarang antara Bermani dan Juru Kalang telah bersatu menjadi BERMANI JURU KALANG, yang terletak di Kecamatan Lebong Selatan Tes.